Gambaran Umum Ilmu Bahasa (Linguistik)
Gambaran Umum Ilmu Bahasa (Linguistik) : Dalam banyak sekali kamus umum, linguistik didefinisikan sebagai ‘ilmu bahasa’ atau ‘studi ilmiah mengenai bahasa’ (Matthews 1997). Dalam The New Oxford Dictionary of English (2003), linguistik didefinisikan sebagai berikut:
“The scientific study of language and its structure, including the study of grammar, syntax, and phonetics. Specific branches of linguistics include sociolinguistics, dialectology, psycholinguistics, computational linguistics, comparative linguistics, and structural linguistics.”
Program studi Ilmu Bahasa mulai jenjang S1 hingga S3, bahkan hingga post-doctoral aktivitas telah banyak ditawarkan di universitas terkemuka, ibarat University of California in Los Angeles (UCLA), Harvard University, Massachusett Institute of Technology (MIT), University of Edinburgh, dan Oxford University. Di Indonesia, paling tidak ada dua universitas yang membuka aktivitas S1 hingga S3 untuk ilmu bahasa, yaitu Universitas Indonesia dan Universitas Kristen Atma Jaya.
Sejarah Perkembangan Ilmu Bahasa
Ilmu bahasa yang dipelajari ketika ini bermula dari penelitian ihwal bahasa semenjak zaman Yunani (abad 6 SM). Secara garis besar studi ihwal bahasa sanggup dibedakan antara (1) tata bahasa tradisional dan (2) linguistik modern.
Tata Bahasa Tradisional
Pada zaman Yunani para filsuf meneliti apa yang dimaksud dengan bahasa dan apa hakikat bahasa. Para filsuf tersebut sependapat bahwa bahasa yakni sistem tanda. Dikatakan bahwa insan hidup dalam gejala yang meliputi segala segi kehidupan manusia, contohnya bangunan, kedokteran, kesehatan, geografi, dan sebagainya. Tetapi mengenai hakikat bahasa – apakah bahasa ibarat realitas atau tidak – mereka belum sepakat. Dua filsuf besar yang pemikirannya terus besar lengan berkuasa hingga ketika ini yakni Plato dan Aristoteles.
Plato beropini bahwa bahasa yakni physei atau ibarat realitas; sedangkan Aristoteles mempunyai pendapat sebaliknya yaitu bahwa bahasa yakni thesei atau tidak ibarat realitas kecuali onomatope dan lambang suara (sound symbolism). Pandangan Plato bahwa bahasa ibarat dengan realitas atau non-arbitrer diikuti oleh kaum naturalis; pandangan Aristoteles bahwa bahasa tidak ibarat dengan realitas atau arbitrer diikuti oleh kaum konvensionalis. Perbedaan pendapat ini juga merambah ke duduk kasus keteraturan (regular) atau ketidakteraturan (irregular) dalam bahasa. Kelompok penganut pendapat adanya keteraturan bahasa yakni kaum analogis yang pandangannya tidak berbeda dengan kaum naturalis; sedangkan kaum anomalis yang beropini adanya ketidakteraturan dalam bahasa mewarisi pandangan kaum konvensionalis. Pandangan kaum anomalis mensugesti pengikut aliran Stoic. Kaum Stoic lebih tertarik pada duduk kasus asal mula bahasa secara filosofis. Mereka membedakan adanya empat jenis kelas kata, yakni nomina, verba, konjungsi dan artikel.
Pada awal kurun 3 SM studi bahasa dikembangkan di kota Alexandria yang merupakan koloni Yunani. Di kota itu dibangun perpustakaan besar yang menjadi sentra penelitian bahasa dan kesusastraan. Para andal dari kota itu yang disebut kaum Alexandrian meneruskan pekerjaan kaum Stoic, walaupun mereka bahwasanya termasuk kaum analogis. Sebagai kaum analogis mereka mencari keteraturan dalam bahasa dan berhasil membangun referensi infleksi bahasa Yunani. Apa yang remaja ini disebut "tata bahasa tradisional" atau " tata bahasa Yunani" , penamaan itu tidak lain didasarkan pada hasil karya kaum Alexandrian ini.
Salah spesialis bahasa bemama Dionysius Thrax (akhir kurun 2 SM) merupakan orang pertama yang berhasil menciptakan hukum tata bahasa secara sistematis serta menambahkan kelas kata adverbia, partisipel, pronomina dan preposisi terhadap empat kelas kata yang sudah dibentuk oleh kaum Stoic. Di samping itu sarjana ini juga berhasil mengklasifikasikan kata-kata bahasa Yunani berdasarkan kasus, jender, jumlah, kala, diatesis (voice) dan modus.
Pengaruh tata bahasa Yunani hingga ke kerajaan Romawi. Para andal tata bahasa Latin mengadopsi tata bahasa Yunani dalam meneliti bahasa Latin dan hanya melaksanakan sedikit modifikasi, alasannya kedua bahasa itu mirip. Tata bahasa Latin dibentuk atas dasar model tata bahasa Dionysius Thrax. Dua andal bahasa lainnya, Donatus (tahun 400 M) dan Priscian (tahun 500 M) juga menciptakan buku tata bahasa klasik dari bahasa Latin yang besar lengan berkuasa hingga ke kurun pertengahan.
Selama kurun 13-15 bahasa Latin memegang peranan penting dalam dunia pendidikan di samping dalam agama Kristen. Pada masa itu gramatika tidak lain yakni teori ihwal kelas kata. Pada masa Renaisans bahasa Latin menjadi sarana untuk memahami kesusastraan dan mengarang. Tahun 1513 Erasmus mengarang tata bahasa Latin atas dasar tata bahasa yang disusun oleh Donatus.
Minat meneliti bahasa-bahasa di Eropa bahwasanya sudah dimulai sebelum zaman Renaisans, antara lain dengan ditulisnya tata bahasa Irlandia (abad 7 M), tata bahasa Eslandia (abad 12), dan sebagainya. Pada masa itu bahasa menjadi sarana dalam kesusastraan, dan bila menjadi objek penelitian di universitas tetap dalam kerangka tradisional. Tata bahasa dianggap sebagai seni berbicara dan menulis dengan benar. Tugas utama tata bahasa yakni memberi petunjuk ihwal pemakaian "bahasa yang baik" , yaitu bahasa kaum terpelajar. Petunjuk pemakaian "bahasa yang baik" ini yakni untuk menghindarkan terjadinya pemakaian unsur-unsur yang sanggup "merusak" bahasa ibarat kata serapan, ragam percakapan, dan sebagainya.
Tradisi tata bahasa Yunani-Latin besar lengan berkuasa ke bahasa-bahasa Eropa lainnya. Tata bahasa Dionysius Thrax pada kurun 5 diterjemahkan ke dalam bahasa Armenia, kemudian ke dalam bahasa Siria. Selanjutnya para andal tata bahasa Arab menyerap tata bahasa Siria.
Selain di Eropa dan Asia Barat, penelitian bahasa di Asia Selatan yang perlu diketahui yakni di India dengan andal gramatikanya yang bemama Panini (abad 4 SM). Tata bahasa Sanskrit yang disusun andal ini mempunyai kelebihan di bidang fonetik. Keunggulan ini antara lain alasannya adanya keharusan untuk melafalkan dengan benar dan sempurna doa dan nyanyian dalam kitab suci Weda.
Sampai menjelang zaman Renaisans, bahasa yang diteliti yakni bahasa Yunani, dan Latin. Bahasa Latin mempunyai kiprah penting pada masa itu alasannya digunakan sebagai sarana dalam dunia pendidikan, manajemen dan diplomasi internasional di Eropa Barat. Pada zaman Renaisans penelitian bahasa mulai berkembang ke bahasa-bahasa Roman (bahasa Prancis, Spanyol, dan Italia) yang dianggap berindukkan bahasa Latin, juga kepada bahasa-bahasa yang nonRoman ibarat bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Swedia, dan Denmark.
Linguistik Modern Linguistik Abad 19
Pada kurun 19 bahasa Latin sudah tidak digunakan lagi dalam kehidupan sehari-hari, maupun dalam pemerintahan atau pendidikan. Objek penelitian yakni bahasa-bahasa yang dianggap mempunyai korelasi kekerabatan atau berasal dari satu induk bahasa. Bahasa-bahasa dikelompokkan ke dalam keluarga bahasa atas dasar kemiripan fonologis dan morfologis. Dengan demikian sanggup diperkirakan apakah bahasa-bahasa tertentu berasal dari bahasa moyang yang sama atau berasal dari bahasa proto yang sama sehingga secara genetis terdapat korelasi kekerabatan di antaranya. Bahasa-bahasa Roman, contohnya secara genetis sanggup ditelusuri berasal dari bahasa Latin yang menurunkan bahasa Perancis, Spanyol, dan Italia.
Untuk mengetahui korelasi genetis di antara bahasa-bahasa dilakukan metode komparatif. Antara tahun 1820-1870 para andal linguistik berhasil membangun korelasi sistematis di antara bahasa-bahasa Roman berdasarkan struktur fonologis dan morfologisnya. Pada tahun 1870 itu para andal bahasa dari kelompok Junggramatiker atau Neogrammarian berhasil menemukan cara untuk mengetahui korelasi kekerabatan antarbahasa berdasarkan metode komparatif.
Beberapa rumpun bahasa yang berhasil direkonstruksikan hingga remaja ini antara lain:
1. Rumpun Indo-Eropa: bahasa Jerman, Indo-Iran, Armenia, Baltik, Slavis, Roman, Keltik, Gaulis.
2. Rumpun Semito-Hamit: bahasa Arab, Ibrani, Etiopia.
3. Rumpun Chari-Nil; bahasa Bantu, Khoisan.
4. Rumpun Dravida: bahasa Telugu, Tamil, Kanari, Malayalam.
5. Rumpun Austronesia atau Melayu-Polinesia: bahasa Melayu, Melanesia, Polinesia.
6. Rumpun Austro-Asiatik: bahasa Mon-Khmer, Palaung, Munda, Annam.
7. Rumpun Finno-Ugris: bahasa Ungar (Magyar), Samoyid.
8. Rumpun Altai: bahasa Turki, Mongol, Manchu, Jepang, Korea.
9. Rumpun Paleo-Asiatis: bahasa-bahasa di Siberia.
10. Rumpun Sino-Tibet: bahasa Cina, Thai, Tibeto-Burma.
11. Rumpun Kaukasus: bahasa Kaukasus Utara, Kaukasus Selatan.
12. Bahasa-bahasa Indian: bahasa Eskimo, Maya Sioux, Hokan
13. Bahasa-bahasa lain ibarat bahasa di Papua, Australia dan Kadai.
Ciri linguistik kurun 19 sebagai berikut:
1) Penelitian bahasa dilakukan terhadap bahasa-bahasa di Eropa, baik bahasa-bahasa Roman maupun nonRoman.
2) Bidang utama penelitian yakni linguistik historis komparatif. Yang diteliti yakni korelasi kekerabatan dari bahasa-bahasa di Eropa untuk mengetahui bahasa-bahasa mana yang berasal dari induk yang sama. Dalam metode komparatif itu diteliti perubahan suara kata-kata dari bahasa yang dianggap sebagai induk kepada bahasa yang dianggap sebagai keturunannya. Misalnya perubahan suara apa yang terjadi dari kata barang, yang dalam bahasa Latin berbunyi causa menjadi chose dalam bahasa Perancis, dan cosa dalam bahasa Italia dan Spanyol.
3) Pendekatan bersifat atomistis. Unsur bahasa yang diteliti tidak dihubungkan dengan unsur lainnya, contohnya penelitian ihwal kata tidak dihubungkan dengan frase atau kalimat.
Linguistik Abad 20
Pada kurun 20 penelitian bahasa tidak ditujukan kepada bahasa-bahasa Eropa saja, tetapi juga kepada bahasa-bahasa yang ada di dunia ibarat di Amerika (bahasa-bahasa Indian), Afrika (bahasa-bahasa Afrika) dan Asia (bahasa-bahasa Papua dan bahasa banyak negara di Asia). Ciri-cirinya:
1) Penelitian meluas ke bahasa-bahasa di Amerika, Afrika, dan Asia.
2) Pendekatan dalam meneliti bersifat strukturalistis, pada tamat kurun 20 penelitian yang bersifat fungsionalis juga cukup menonjol.
3) Tata bahasa merupakan kepingan ilmu dengan pembidangan yang semakin rumit. Secara garis besar sanggup dibedakan atas mikrolinguistik, makro linguistik, dan sejarah linguistik.
4) Penelitian teoretis sangat berkembang.
5) Otonomi ilmiah makin menonjol, tetapi penelitian antardisiplin juga berkembang.
6) Prinsip dalam meneliti yakni deskripsi dan sinkronis
Keberhasilan kaum Junggramatiker merekonstruksi bahasa-bahasa proto di Eropa mensugesti pemikiran para andal linguistik kurun 20, antara lain Ferdinand de Saussure. Sarjana ini tidak hanya dikenal sebagai bapak linguistik modern, melainkan juga seorang tokoh gerakan strukturalisme. Dalam strukturalisme bahasa dianggap sebagai sistem yang berkaitan (system of relation). Elemen-elemennya ibarat kata, suara saling berkaitan dan bergantung dalam membentuk sistem tersebut.
Beberapa pokok pemikiran Saussure:
(1) Bahasa mulut lebih utama dari pada bahasa tulis. Tulisan hanya merupakan sarana yang mewakili ujaran.
(2) Linguistik bersifat deskriptif, bukan preskriptif ibarat pada tata bahasa tradisional. Para andal linguistik bertugas mendeskripsikan bagaimana orang berbicara dan menulis dalam bahasanya, bukan memberi keputusan bagaimana seseorang seharusnya berbicara.
(3) Penelitian bersifat sinkronis bukan diakronis ibarat pada linguistik kurun 19. Walaupun bahasa berkembang dan berubah, penelitian dilakukan pada kurun waktu tertentu.
(4) Bahasa merupakan suatu sistem tanda yang bersisi dua, terdiri dari signifiant (penanda) dan signifie (petanda). Keduanya merupakan wujud yang tak terpisahkan, bila salah satu berubah, yang lain juga berubah.
(5) Bahasa formal maupun nonformal menjadi objek penelitian.
(6) Bahasa merupakan sebuah sistem kekerabatan dan mempunyai struktur.
(7) Dibedakan antara bahasa sebagai sistem yang terdapat dalam nalar kecerdikan pemakai bahasa dari suatu kelompok sosial (langue) dengan bahasa sebagai manifestasi setiap penuturnya (parole).
(8) Dibedakan antara korelasi asosiatif dan sintagmatis dalam bahasa. Hubungan asosiatif atau paradigmatis ialah korelasi antarsatuan bahasa dengan satuan lain alasannya ada kesamaan bentuk atau makna. Hubungan sintagmatis ialah korelasi antarsatuan pembentuk sintagma dengan mempertentangkan suatu satuan dengan satuan lain yang mengikuti atau mendahului.
Gerakan strukturalisme dari Eropa ini besar lengan berkuasa hingga ke benua Amerika. Studi bahasa di Amerika pada kurun 19 dipengaruhi oleh hasil kerja akademis para andal Eropa dengan nama deskriptivisme. Para andal linguistik Amerika mempelajari bahasa-bahasa suku Indian secara deskriptif dengan cara menguraikan struktur bahasa. Orang Amerika banyak yang menaruh perhatian pada duduk kasus bahasa. Thomas Jefferson, presiden Amerika yang ketiga (1801-1809), menganjurkan supaya supaya para andal linguistik Amerika mulai meneliti bahasa-bahasa orang Indian. Seorang andal linguistik Amerika bemama William Dwight Whitney (1827-1894) menulis sejumlah buku mengenai bahasa, antara lain Language and the Study of Language (1867).
Tokoh linguistik lain yang juga andal antropologi yakni Franz Boas (1858-1942). Sarjana ini menerima pendidikan di Jerman, tetapi menghabiskan waktu mengajar di negaranya sendiri. Karyanya berupa buku Handbook of American Indian languages (1911-1922) ditulis bersama sejumlah koleganya. Di dalam buku tersebut terdapat uraian ihwal fonetik, kategori makna dan proses gramatikal yang digunakan untuk mengungkapkan makna. Pada tahun 1917 diterbitkan jurnal ilmiah berjudul International Journal of American Linguistics.
Pengikut Boas yang berpendidikan Amerika, Edward Sapir (1884-1939), juga spesialis antropologi dinilai menghasilkan karya-karya yang sangat cemerlang di bidang fonologi. Bukunya, Language (1921) sebagian besar mengenai tipologi bahasa. Sumbangan Sapir yang patut dicatat yakni mengenai penjabaran bahasa-bahasa Indian.
Pemikiran Sapir besar lengan berkuasa pada pengikutnya, L. Bloomfield (1887-1949), yang melalui kuliah dan karyanya mendominasi dunia linguistik hingga tamat hayatnya. Pada tahun 1914 Bloomfield menulis buku An Introduction to Linguistic Science. Artikelnya juga banyak diterbitkan dalam jurnal Language yang didirikan oleh Linguistic Society of America tahun 1924. Pada tahun 1933 sarjana ini menerbitkankan buku Language yang mengungkapkan pandangan behaviorismenya ihwal fakta bahasa, yakni stimulus-response atau rangsangan-tanggapan. Teori ini dimanfaatkan oleh Skinner (1957) dari Universitas Harvard dalam pengajaran bahasa melalui teknik drill.
Dalam bukunya Language, Bloomfield mempunyai pendapat yang bertentangan dengan Sapir. Sapir beropini fonem sebagai satuan psikologis, tetapi Bloomfield beropini fonem merupakan satuan behavioral. Bloomfield dan pengikutnya melaksanakan penelitian atas dasar struktur bahasa yang diteliti, alasannya itu mereka disebut kaum strukturalisme dan pandangannya disebut strukturalis.
Bloomfield beserta pengikutnya menguasai percaturan linguistik selama lebih dari 20 tahun. Selama kurun waktu itu kaum Bloomfieldian berusaha menulis tata bahasa deskriptif dari bahasa-bahasa yang belum mempunyai aksara. Kaum Bloomfieldian telah berjasa meletakkan dasar-dasar bagi penelitian linguistik di masa sehabis itu.
Bloomfield beropini fonologi, morfologi dan sintaksis merupakan bidang berdikari dan tidak berhubungan. Tata bahasa lain yang memperlakukan bahasa sebagai sistem korelasi yakni tata bahasa stratifikasi yang dipelopori oleh S.M. Lamb. Tata bahasa lainnya yang memperlakukan bahasa sebagai sistem unsur yakni tata bahasa tagmemik yang dipelopori oleh K. Pike. Menurut pendekatan ini setiap gatra diisi oleh sebuah elemen. Elemen ini bersama elemen lain membentuk suatu satuan yang disebut tagmem.
Murid Sapir lainnya, Zellig Harris, mengaplikasikan metode strukturalis ke dalam analisis segmen bahasa. Sarjana ini mencoba menghubungkan struktur morfologis, sintaktis, dan wacana dengan cara yang sama dengan yang dilakukan terhadap analisis fonologis. Prosedur penelitiannya dipaparkan dalam bukunya Methods in Structural Linguistics (1951).
Ahli linguistik yang cukup produktif dalam menciptakan buku yakni Noam Chomsky. Sarjana inilah yang mencetuskan teori transformasi melalui bukunya Syntactic Structures (1957), yang kemudian disebut classical theory. Dalam perkembangan selanjutnya, teori transformasi dengan pokok pikiran kemampuan dan kinerja yang dicetuskannya melalui Aspects of the Theory of Syntax (1965) disebut standard theory. Karena pendekatan teori ini secara sintaktis tanpa menyinggung makna (semantik), teori ini disebut juga sintaksis generatif (generative syntax). Pada tahun 1968 sarjana ini mencetuskan teori extended standard theory. Selanjutnya pada tahun 1970, Chomsky menulis buku generative semantics; tahun 1980 government and binding theory; dan tahun 1993 Minimalist program.
Paradigma
Kata paradigma diperkenalkan oleh Thomas Khun pada sekitar kurun 15. Paradigma yakni prestasi ilmiah yang diakui pada suatu masa sebagai model untuk memecahkan duduk kasus ilmiah dalam kalangan tertentu. Paradigma sanggup dikatakan sebagai norma ilmiah. Contoh paradigma yang mulai tumbuh semenjak zaman Yunani tetapi pengaruhnya tetap terasa hingga zaman modern ini yakni paradigma Plato dan paradigma Aristoteles. Paradigma Plato berintikan pendapat Plato bahwa bahasa yakni physei atau ibarat dengan realitas, disebut juga non-arbitrer atau ikonis. Paradigma Aristoteles berintikan bahwa bahasa yakni thesei atau tidak ibarat dengan realitas, kecuali onomatope, disebut arbitrer atau non-ikonis. Kedua paradigma ini saling bertentangan, tetapi digunakan oleh peneliti dalam memecahkan duduk kasus bahasa, contohnya ihwal hakikat tanda bahasa.
Pada masa tertentu paradigma Plato banyak digunakan andal bahasa untuk memecahkan duduk kasus linguistik. Penganut paradigma Plato ini disebut kaum naturalis. Mereka menolak gagasan kearbitreran. Pada masa tertentu lainnya paradigma Aristoteles digunakan mengatasi duduk kasus linguistik. Penganut paradigma Aristoteles disebut kaum konvensionalis. Mereka mendapatkan adanya kearbiteran antara bahasa dengan realitas.
Pertentangan antara kedua paradigma ini terus berlangsung hingga kurun 20. Di bidang linguistik dan semiotika dikenal tokoh Ferdinand de Saussure sebagai penganut paradigma .Aristoteles dan Charles S. Peirce sebagai penganut paradigma Plato. Mulai dari awal kurun 19 hingga tahun 1960-an paradigma Aristoteles yang diikuti Saussure yang beropini bahwa bahasa yakni sistem tanda yang arbitrer digunakan dalam memecahkan masalah-masalah linguistik. Tercatat beberapa nama andal linguistik ibarat Bloomfield dan Chomsky yang dalam pemikirannya memperlihatkan imbas Saussure dan paradigma Aristoteles. Menjelang pertengahan tahun 60-an dominasi paradigma Aristoteles mulai digoyahkan oleh paradigma Plato melalui artikel R. Jakobson "Quest for the Essence of Language" (1967) yang diilhami oleh Peirce. Beberapa nama andal linguistik ibarat T. Givon, J. Haiman, dan W. Croft tercatat sebagai penganut paradigma Plato.
Cakupan dan Kemaknawian Ilmu Bahasa
Secara umum, bidang ilmu bahasa dibedakan atas linguistik murni dan linguistik terapan. Bidang linguistik murni meliputi fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Sedangkan bidang linguistik terapan meliputi pengajaran bahasa, penerjemahan, leksikografi, dan lain-lain. Beberapa bidang tersebut dijelaskan dalam sub-bab berikut ini.
Fonetik
Fonetik mengacu pada artikulasi suara bahasa. Para andal fonetik telah berhasil memilih cara artikulasi dari banyak sekali suara bahasa dan menciptakan abjad fonetik internasional sehingga memudahkan seseorang untuk mempelajari dan mengucapkan suara yang tidak ada dalam bahasa ibunya. Misalnya dalam bahasa Inggris ada perbedaan yang faktual antara suara tin dan thin, dan antara they dan day, sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak. Dengan mempelajari fonetik, orang Indonesia akan sanggup mengucapkan kedua suara tersebut dengan tepat.
Abjad fonetik internasional, yang didukung oleh laboratorium fonetik, departemen linguistik, UCLA, penting dipelajari oleh semua pemimpin, khususnya pemimpin negara. Dengan kemampuan membaca abjad fonetik secara tepat, seseorang sanggup memperlihatkan pidato dalam ratusan bahasa. Misalnya, kalau seorang pemimpin di Indonesia mengadakan kunjungan ke Cina, ia cukup meminta staf-nya untuk menerjemahkan pidatonya ke bahasa Cina dan menulisnya dengan abjad fonetik, sehingga ia sanggup memperlihatkan pidato dalam bahasa Cina dengan ucapan yang tepat. Salah seorang pemimpin yang telah memanfaatkan abjad fonetik internasional yakni Paus Yohanes Paulus II. Ke negara manapun dia berkunjung, dia selalu memperlihatkan khotbah dengan memakai bahasa setempat. Apakah hal tersebut berarti bahwa dia memahami semua bahasa di dunia? Belum tentu, namun cukup berguru fonetik saja untuk bisa mengucapkan suara ratusan bahasa dengan tepat.
Fonologi
Fonologi mengacu pada sistem suara bahasa. Misalnya dalam bahasa Inggris, ada gugus konsonan yang secara alami sulit diucapkan oleh penutur orisinil bahasa Inggris alasannya tidak sesuai dengan sistem fonologis bahasa Inggris, namun gugus konsonan tersebut mungkin sanggup dengan gampang diucapkan oleh penutur orisinil bahasa lain yang sistem fonologisnya terdapat gugus konsonan tersebut. Contoh sederhana yakni pengucapan gugus ‘ng’ pada awal kata, hanya berterima dalam sistem fonologis bahasa Indonesia, namun tidak berterima dalam sistem fonologis bahasa Inggris. Kemaknawian utama dari pengetahuan akan sistem fonologi ini yakni dalam pertolongan nama untuk suatu produk, khususnya yang akan dipasarkan di dunia internasional. Nama produk tersebut tentunya akan lebih baik kalau diubahsuaikan dengan sistem fonologis bahasa Inggris, sebagai bahasa internasional.
Morfologi
Morfologi lebih banyak mengacu pada analisis unsur-unsur pembentuk kata. Sebagai perbandingan sederhana, spesialis farmasi (atau kimia?) perlu memahami zat apa yang sanggup bercampur dengan suatu zat tertentu untuk menghasilkan obat flu yang efektif; sama halnya spesialis linguistik bahasa Inggris perlu memahami imbuhan apa yang sanggup direkatkan dengan suatu kata tertentu untuk menghasilkan kata yang benar. Misalnya akhiran -en sanggup direkatkan dengan kata sifat dark untuk membentuk kata kerja darken, namun akhiran -en tidak sanggup direkatkan dengan kata sifat green untuk membentuk kata kerja. Alasannya tentu hanya sanggup dijelaskan oleh andal bahasa, sedangkan pengguna bahasa boleh saja pribadi memakai kata tersebut. Sama halnya, alasan ketentuan pencampuran zat-zat kimia hanya diketahui oleh andal farmasi, sedangkan pengguna obat boleh saja pribadi memakai obat flu tersebut, tanpa harus mengetahui proses pembuatannya.
Sintaksis
Analisis sintaksis mengacu pada analisis frasa dan kalimat. Salah satu kemaknawiannya yakni kiprahnya dalam perumusan peraturan perundang-undangan. Beberapa teori analisis sintaksis sanggup memperlihatkan apakah suatu kalimat atau frasa dalam suatu peraturan perundang-undangan bersifat ambigu (bermakna ganda) atau tidak. Jika bermakna ganda, tentunya perlu ada adaptasi tertentu sehingga peraturan perundang-undangan tersebut tidak disalahartikan baik secara sengaja maupun tidak sengaja.
Semantik
Kajian semantik membahas mengenai makna bahasa. Analisis makna dalam hal ini mulai dari suku kata hingga kalimat. Analisis semantik bisa memperlihatkan bahwa dalam bahasa Inggris, setiap kata yang mempunyai suku kata ‘pl’ mempunyai arti sesuatu yang datar sehingga tidak cocok untuk nama produk/benda yang cekung. Ahli semantik juga sanggup mengambarkan suku kata apa yang cenderung mempunyai makna yang negatif, sehingga suku kata tersebut seharusnya tidak digunakan sebagai nama produk asuransi. Sama halnya dengan seorang dokter yang mengetahui antibiotik apa saja yang sesuai untuk seorang pasien dan mana yang tidak sesuai.
Pengajaran Bahasa
Ahli bahasa yakni guru dan/atau instruktur bagi para guru bahasa. Ahli bahasa sanggup memilih secara ilmiah kata-kata apa saja yang perlu diajarkan bagi pelajar bahasa tingkat dasar. Para pelajar hanya pribadi mempelajari kata-kata tersebut tanpa harus mengetahui bagaimana kata-kata tersebut disusun. Misalnya kata-kata dalam buku-buku Basic English. Para pelajar (dan guru bahasa Inggris dasar) tidak harus mengetahui bahwa yang dimaksud Basic yakni B(ritish), A(merican), S(cientific), I(nternational), C(ommercial), yang pada awalnya diolah pada tahun 1930an oleh andal linguistik C. K. Ogden. Pada masa awal tersebut, Basic English terdiri atas 850 kata utama.
Selanjutnya, pada tahun 1953, Michael West menyusun General Service List yang berisikan dua kelompok kata utama (masing-masing terdiri atas 1000 kata) yang diharapkan oleh pelajar untuk sanggup berbicara dalam bahasa Inggris. Daftar tersebut terus dikembangkan oleh banyak sekali universitas ternama yang mempunyai jurusan linguistik. Pada tahun 1998, Coxhead dari Victoria University or Wellington, berhasil menuntaskan suatu proyek kosakata akademik yang dilakukan di semua fakultas di universitas tersebut dan menghasilkan Academic Wordlist, yaitu daftar kata-kata yang wajib diketahui oleh mahasiswa dalam membaca buku teks berbahasa Inggris, menulis laporan dalam bahasa Inggris, dan tujuannya lainnya yang bersifat akademik.
Proses penelitian hingga menjadi materi pelajaran atau buku bahasa Inggris yang bermanfaat hanya diketahui oleh andal bahasa yang terkait, sedangkan pelajar bahasa sanggup langung mempelajari dan memperoleh manfaatnya. Sama halnya dalam ilmu kedokteran, proses penelitian hingga menjadi obat yang bermanfaat hanya diketahui oleh dokter, sedangkan pasien sanggup pribadi menggunakannya dan memperoleh manfaatnya.
Leksikografi
Leksikografi yakni bidang ilmu bahasa yang mengkaji cara pembuatan kamus. Sebagian besar (atau bahkan semua) sarjana mempunyai kamus, namun mereka belum tentu tahu bahwa penulisan kamus yang baik harus melalui banyak sekali proses.
Dua nama besar yang mengawali penyusunan kamus yakni Samuel Johnson (1709-1784) dan Noah Webster (1758-1843). Johnson, andal bahasa dari Inggris, menciptakan Dictionary of the English Language pada tahun 1755, yang terdiri atas dua volume. Di Amerika, Webster pertama kali menciptakan kamus An American Dictionary of the English Language pada tahun 1828, yang juga terdiri atas dua volume. Selanjutnya, pada tahun 1884 diterbitkan Oxford English Dictionary yang terdiri atas 12 volume.
Saat ini, kamus umum yang cukup luas digunakan yakni Oxford Advanced Learner’s Dictionary. Mengapa kamus Oxford? Beberapa orang mungkin secara sederhana akan menjawab alasannya kamus tersebut lengkap dan cukup gampang dimengerti. Tidak banyak yang tahu bahwa (setelah tahun 1995) kamus tersebut ditulis berdasarkan hasil analisis British National Corpus yang melibatkan cukup banyak andal bahasa dan menghabiskan dana universitas dan dana negara yang jumlahnya cukup besar. Secara umum, definisi yang diberikan dalam kamus tersebut seharusnya sanggup gampang dipahami oleh pelajar alasannya semua entri dalam kamus tersebut hanya didefinisikan oleh sekelompok kosa kata inti. Bagaimana kosa-kata inti tersebut disusun? Tentu hanya andal bahasa yang sanggup menjelaskannya, sedangkan para sarjana dan pelajar sanggup pribadi saja menikmati dan memakai banyak sekali kamus Oxford yang ada dipasaran.
Sumber http://sharingilmupajak.blogspot.com
0 Response to "Gambaran Umum Ilmu Bahasa (Linguistik)"
Posting Komentar